Hermeneutika Hadits
Hermeneutika terhadap teks hadis menuntut diperlakukannya teks hadis sebagai produk lama dapat berdialog secara komunikatif dan romantis (dialektik) dengan pensyarah dan audiensnya yang baru sepanjang sejarah umat Islam. Dengan demikian dengan pendekatan ini tidak menafikan kedinamisan masyarakat serta tidak menafikan keberadaan teks-teks hadis sebagai produk masa lalu. Oleh karenanya, upaya mempertemukan horison masa lalu dan horison masa kini dengan dialog triadik diharapkan dapat melahirkan wacana pemahaman yang lebih bermakna dan fungsional bagi manusia. Hermeneutika hadis yang berperspektif gender dipergunakan untuk mengkaji teksteks hadis perempuan yang memiliki rentang dengan audiensnya, agar senantiasa dapat berdialog dan lebih bermakna bagi kehidupan manusia (audiensnya) sepanjang sejarah. (Najwah, 2016)
Pengertian
Hermeneutika, secara terminologi, berarti penafsiran terhadap ungkapan yang memiliki rentang sejarah atau penafsiran terhadap teks tertulis yang memiliki rentang waktu yang panjang dengan audiensnya. Sebagai sebuah teori interpretasi, hermeneutika dihadirkan untuk menjembatani keterasingan dalam distansi waktu, wilayah dan sosio kultural Nabi dengan teks hadis dan audiens (umat Islam dari masa ke masa). Dengan melibatkan 3 unsur utama (Teks-Pensyarah-Audiens) dengan dialogis komunikatif diharapkan dapat menarik analogi historis kontekstual masa Nabi yang Arabic centris dengan masa umatnya yang berbeda-beda.
Metode ini dipakai untuk memahami teks-teks hadis yang sudah diyakini orisinil dari Nabi, dengan mempertimbangkan teks hadis memiliki rentang yang cukup panjang antara Nabi dan umat Islam sepanjang masa. Sebagaimana teks-teks yang lain tidak bisa mempresentasikan seluruh realitas, teladan Nabi sebagai wacana yang dinamis akan mengalami penyempitan setelah mewujud dalam bentuk tulisan, sehingga berbagai "keterbatasan" menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.
Hermeneutika terhadap teks hadis menuntut diperlakukannya teks hadis sebagai produk lama dapat berdialog secara komunikatif dan romantis (dialektik) dengan pensyarah dan audiensnya yang baru sepanjang sejarah umat Islam. Dengan demikian dengan pendekatan ini tidak menafikan kedinamisan masyarakat serta tidak menafikan keberadaan teks-teks hadis sebagai produk masa lalu. Oleh karenanya, upaya mempertemukan horison masa lalu dan horison masa kini dengan dialog triadik diharapkan dapat melahirkan wacana pemahaman yang lebih bermakna dan fungsional bagi manusia.
Tokoh-tokoh Hermeneutika Hadis
Tokoh-tokoh yang hadir dalam penafsiran teks hadis dengan metode hermeneutika pada hakikatnya tidak mengklaim teori mereka sebuah hermeneutika hadis, dan ini hanya sekedar claim berdasarkan kesesuaian dengan metode penafsiran teks hadis era ini.
- Yusuf Qardhawi
- Memahami sunnah sesuai petunjuk Al-Qur'an
- Menghimpun hadis-hadis yang terjalin dalam tema yang sama
- Penggabungan atau pentarjihan antar hadis-hadis yang tampak bertentangan
- Memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakang serta tujuannya
- Membedakan antara sarana yang berubah-ubah dan sasaran yang tetap
- Membedakan yang hakiki dan majazi
- Membedakan antara ghaib dan nyata Membedakan antara ghaib dan nyata
- Memastikan makna kata kata dalam hadis
- Khaled Abou el-Fadl
- Kompetensi (otentisitas), terkait dengan otentisitas al-Qur’an dan Sunnah. Kompetensi Qur’an dan as-sunnah harus benar-benar dipertimbangkan entah dari aspek historis dan kevalidan sumbernya
- Penetapan Makna, menggali makna teks dari aspek kebahasaannya
- Perwakilan (reader), yaitu limpahan otoritas dari Tuhan kepada manusia. Contohnya para mujtahid, akademisi. Khaled AF juga memberi lima syarat kepada reader agar nantinya hasil keputusan hukum tidak bersifat otoritarianisme
- Nurun Najwah
- Metode analisis historis meliputi aspek sanad dan matan. Penelitian sanad mengacu pada ketetapan ulama dalam menilai sahabat.
- Metode hermeneutika mencakup aspek bahasa, konteks historis, tematik-komprehensif, menentukan ghayah-nya
- Syuhudi Ismail
- Sanad Hadis Shahih (Adil/Dhabith/Muttashil/Ghoir Syadz/Ghair `Illah)
- Mempertimbangkan Style Bahasa )Jawami`ul Kalim/Tamsil/Simbolik/Dialog/Analog)
- Kandungan Hadis dihubungkan fungsi Nabi (local/temporal/universal) -Sebagai Rasul/Kepala Negara/Panglima Perang/Hakim/Suami/Individu (al-Qarafi) Tekstual/Kontekstual= Risalah/Ghair Risalah (ad-Dahlawi)
- Mempertimbangkan Latar belakang /Sabab Wurud mikro dan makro hadis
- Mengkorelasikan hadis-hadis lain, yang kontradiktif (al-Jam`u/Nasikh Mansukh/Tarjih/Tawaquf)
Ada beberapa cara al-Qhordowi dalam memahami hadis adalah dengan menerapkan beberapa prinsip, yaitu:
Khaled AF menawarkan tiga hal pokok yang menjadi kunci untuk membuka diskursus yang otoritatif dalam hukum Islam yaitu:
Konsep memahami teks hadis menurut Syuhudi Ismail adalah sebagai berikut:
referensi:
Fahimah, S. (2017). Hermeneutika Hadis: Tinjauan Pemikiran Yusuf Al-Qordhowi Dalam Memahami Hadis. Madinah: Jurnal Studi Islam, 4(2), 85 -. https://doi.org/10.58518/madinah.v4i2.189
Ismail, Syuhudi, 1994, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual Telaah Ma’ani tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal, Jakarta: Bulan Bintang
Nurun Najwah, ‘Kriteria Memilih Pasangan Hidup (Kajian Hermeneutika
Hadis)’, Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 17.1 (2016), 95–120
Suhendra, A. (2015). Hermeneutika Hadis Khaled M. Abou El Fadl. Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith, 5(2), 343–362. https://doi.org/10.15642/mutawatir.2015.5.2.343-362