kitab Hadits primer

Kitab-kitab hadis primer yaitu kitab-kitab hadits yang ditulis oleh para Imam-Imam hadits yang memiliki riwayat secara langsung dari Rasulullah SAW, melalui jalur sanadnya sendiri, secara keseluruhan dari awal hingga akhir. Seperti kitab Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa'i, sunan ibnu Majah, Musnad Imam Ahmad bin Hambal dsb. Kitab-kitab seperti inilah yang harus dikenali oleh generasi-generasi umat Islam saat ini, karena kapasitas kitab-kitab tersebut. sebagai rujukan utama daiam sunnah Nabawiyah. Dan tidak mungkin bagi seseorang yang mengkaji hadis, meninggalkan kitab-kitab tersebut.

Kitab Kolekasi Hadis Pola Periwayat

  1. Musnad Abu Dawud At-Tayalisi
  2. Musnad Ahmad
  3. Mu’jam Thabarani

Pola kitab ini berdasarkan pada variabel sanad sebagai salah satu unsur dari hadis di samping matan. Pola periwayat ini ada tiga varian yaitu:

  1. musnad, yang penyusunan dan pengumpulan hadis-hadisnya berdasarkan nama-nama periwayat dari tingkat sahabat Nabi. Pemberian nama-nama musnad (menjadi bagian) dalam kitab Musnad bisa menggunakan nama seorang periwayat, misalnya musnad Abi Hurairah, bisa juga 4 menggunakan nama untuk kelompok periwayat, misalnya musnad al-Syāmiyyīn, musnad al-muksirūn fī al-riwāyah, atau musnad al-nisā;
  2. mu’jam, yang penyusunan dan pengumpulan hadis-hadisnya berdasarkan urutan huruf pertama dari nama para periwayat (secara alfabetis). Nama periwayat yang menjadi patokan dalam pengurutan nama periwayat ada yang menggunakan nama-nama periwayat dari kalangan sahabat, ada pula yang menggunakan nama-nama periwayat pada pangkal sanad (guru langsung dari penyusun kitab); dan
  3. kombinasi musnad dan mu’jam, yang penyusunan dan pengumpulan hadis-hadisnya menggabungkan metode musnad dan mu’jam.

  • Musnad Abu Dawud At-Tayalisi
    1. Profil Pengarang
    2. Abu Dawud al-Țayālisi (133-204 H=750-819 M) adalah seorang pakar hadis, hafidz mutqin, yang berasal dari Perisa. Pendidikan awalnya tumbuh dan dan berkembang di bawah asuhan ayahnya, Ali bin al-Mutsannaa, dan bantuan pamannya Muhammad bin Ahmad bin al-Mutsanna. Pendidikan awalnya tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya, Ali bin al-Mutsannaa, dan bantuan pamannya Muhammad bin Ahmad bin Al-Mutsanna. Ia memiliki semangat yang tinggi dalam belajar, dan memulai perjalanan di usianya yang relatif masih muda, yakni 15 tahun. Setelah banyak melawat ke berbagai negeri, kemudia kembali ke daerah asalnya, Mousul-Bashrah.

      Selama belajar dan mencari hadis, ia bia bertemu dan menerima hadis dari banyak guru. Di antara gurunya yang menonjol ialah: 2 Syu`bah bin al-Hajjāj al-Ward, Hammād bin Salamah bin Dīnār, al-Wadhdhāh bin ‘Abdillāh (Abū ‘Awwānah), Muhammad bin Abirrahmān bin al-Mughiirah bin al-Haarits bin Abi Dzi’bi, Warqā bin ‘Umar bin Kulaib, Jarir bin Hazim, Hamma bin Zaid, Sufyan al-Ṡawri, dan Hisyam al-Dustawāi, Ahmad bin Mani’, Abu Bakar bin Abi Shaybah, Yahya bin Mu’in.

      Murid-muridnya juga sangat banyak, di antaranya Yunus bin Habib, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Muhammad bin Basysyār, Mahmud bin Ghaylān, Ibrāhim bin Muhammad Abuu Ishāq al-Halabiy, Ibrāhim bin Marzūq al-Bashriy, Ahmad ibn Ibrāhim al-Dauqiy, Ahmad bin Ishām al-Ashbahāniy, Ali bin al-Madīni, dan Amr bin Ali al-Falas, Ibn Hibban, Ibn Adiy, Ibn al-Sunni, al-Tabarani, Abu Amr bin Hamdan Al-Hiri, dan Abu Bakar Muhammad bin Ibrāhim Al-Muqri.

      Para ulama banyak memberikan penilaian yang positif terhadap integritas dan intelektualitasnya di bidang hadis, misalnya sebagai pribadi yang tsiqah dan banyak hafalannya. Dalam hal melakukan penilaiain terhadap para periwayat, Ia lebih banyak menukil pendapat ulama kritikus lainnya daripada mengemukakan pendapatnya sendiri

    3. Pengenalan Kitab
    4. Kitab Musnad Abi Dāwud al-Thayālisi tergolong kitab musnad yang paling tua. Kitab ini dicetak dalam 4 juz dan memuat 2890 hadis. Hadis-hadis di dalamnya sebagian besar marfu’, tapi ada pula hadis mauquf dan maqtu’.

      Sebagaimana umumnya kitab musnad, kitab ini disusun berdasarkan nama sahabat. Metode pengurutan nama sahabat yang ditempuh adalah berdasarkan penilaian statusnya, awal masuk Islamnya, khusus kelompok sahabat perempuan, dan sahabat yang banyak meriwayatkan hadis.

      Berbasis pada edisi cetakan kitab dalam 4 juz, kitab ini akan diberikan gambaran ringkas. Pada juz I, dikemukakan nama-nama periwayat sahabat berikut hadis-hadis yang diriwayatkannya. Nama para periwayat dimaksud ialah khulafa ar-Rasyidin dan sepuluh sahabat yang diberi kabar masuk surga yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Abu ‘Ubaidah bin alJarrah, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan Said bin Zayd. Selanjutnya diikuti nama sahabat lainnya, yaitu Abdulllah bin Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Musa al-Asy’ari, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Ubadah bin as-Shamit, Abu Ayyub al-Anshari, Zaid bin Tsabit, Abu Qatadah.

      Pada juz II, dilanjutkan dengan para periwayat lainnya, mulai nomor 21 yakni sahabat Abu Mas’ud al-Anshari hingga nomor 1469 yakni Rifā’ah al-Badriy. Pada juz III sebagian besar berisi periwayat dari sahabat perempuan, mulai dari Fathimah alZahra (nomor 1470 ) hingga Ummu ‘Imārah (nomor 1771). Pada bagian belakang juz II dilanjutkan dengan kembali ke periwayat sahabat pria. Ada 4 sahabat periwayat yang banyak meriwayatkan hadis yang disebutkan di sini yaitu Jabir bin Abdullah (nomor 1772- 1910), Abdullah bin Umar bin Khaththab (nomor 1911-2070), Anas bin Malik (nomor 2071-2263), dan Abu Said al-Khadri (nomor 2265- 2354).

      Juz IV (terakhir), melanjutkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh tiga periwayat sahabat lainnya yang banyak meriwayatkan hadis. Ketiga periwayat dimaksud ialah Abdullah bin Amru bin alAsh (nomor 2359-2409), Abu Hurairah (nomor 2410-2721), dan Abdullah bin Abbas (nomor 2722-2890).

      Melalui kitab Musnad yang ditahqiq oleh ‘Abdullah bin Abd al-Muhsin al-Turky, ada beberapa informasi tambahan penting yang diperoleh tentang kitab Musnad ini. Informasi itu antara lain (1) biografi singkat setiap periwayat sahabat yang namanya ditampilkan, (2) takhrij hadisnya, yakni informasi keberadaan setiap hadis yang ditampilkan dalam kitab Musnad ini pada sembilan kitab hadis induk lainnya (al-kutub al-tis’ah), dan (3)informasi kualitas semua hadis, misalnya berupa hasil penilaian dengan pernyataan hadītṡun shahīhun (dan ini merupakan penialain untuk sebagian besar hadis), dan pernyataan isnāduhu dha’īfun

      Sebagai informasi tambahan bahwa Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Banna telah menyusun kitab yang berjudul Minhah al-Ma’būd fī Tartībi Musnadi al-Tayīlisi Abu Dawud. Kitab ini sebagaimana terlihat dari judulnya merupakan hasil sistematisasi kitab Musnad Abī Dāwud al-Thayālisi menurut 12 sistematika bab-bab fiqih, yang akan membantu memudahkan dalam mengakses hadis secara tematik.

  • Musnad Ahmad
    1. Profil Pengarang
    2. Ahmad Ibn Hanbal (164-241 H=780-855 M). Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban. Karena nenek moyangnya inilah, di belakang namanya ia sering dijuluki al-Syaibani. 6 Selain itu, ia juga sering dijuluki dengan Abu Abdullah. Ia lahir dan besar di Bagdad sebagai anak tunggal dan ayahnya meninggal ketika dia masih muda. Ibunya tidak menikah lagi dan fokus merawat dan mengarahkannya untuk sungguhsungguh belajar. Berasal dari keturunan Arab suku banu Syaiban, Ahmad diberi laqob al-Syaibany. Ia dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriah (750 M).

      Ayahnya bernama Muhammad, dan ibunya bernama Shafiyah binti Maimunah binti Abdul Malik al-Syaibai. Ia berasal dari keturunan Arab, dari suku Bani Syaiban, sehingga diberi lakab al-Syaibani. Ayahnya berpulang ke rahmatullah ketika masa kecil Ahmad dengan hanya meninggalkan harta pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Ibunya tidak menikah lagi dan memfokuskan perhatian kepada Ahmad sehingga bisa tumbuh sebagaimana yang ia harapkan.

      Sejak kecil Ia sudah banyak belajar al-Qur’an dan bahasa. Pada usia lima belas tahun ia mulai belajar dan menghafal hadits, dan pada usia dua puluh tahun ia mulai mencari ilmu dan pergi ke Kufah, Mekah, Madinah, Syam dan Yaman, kemudian kembali ke Bagdad. Pada tahun 195-197 H Ia belajar pada al-Syafi' pada saat alSyafi'i melakukan perjalanan ke sana, dan dia adalah salah satu murid Syafi'i terbesar di Baghdad. Ahmad juga diajarkan oleh banyak ulama Irak, termasuk Ibrahim bin Sa’idd, Sufyan bin Uyaynah, Yahya bin Said, Yazid bin Harun, Abu Dawudd alTayalisi, Waki' bin Al-Jarrah dan Abdul Rahman bin Mahdi.

      Ahmad bn Hanbal lahir dan dibesarkan di Baghdad, dan ia mendapatkan pendidikan awalnya sampai umur 19 tahun dikota kelahiranya tersebut. Sejak kecil Imam Ahmad sudah disekolahkan kepada seorang ahli Qira’at, sehingga sejak kecil ia sudah hafal alQur’an dan mulai belajar hadis. Kondisi ekonomi yang sulit dan banyaknya perilaku bid’ah di masyarakat turut menjadi dorongan kuat bagi Ahmad untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

      Sebagai kota ilmu pengetahuan, kota Baghdad telah menjadikan Imam Ahmad sebagai seorang yang tersohor karena keilmuannya dan sikapnya yang kukuh mempertahankan keyakinan. Imam Ahmad meninggal pada hari Jum’at bulan Rabi’ul awwal tahun 241 H/ 855 M di Baghdad.

      Imam Ahmad merupakan ulama yang produktif. Diantara karyanya adalah al-‘Ilal, al-Tafsir, al-Nasikh wal-Mansukh, kitab al-Zuhd, al-Masa’il, Fadail al-Sahabah, Ta’at al-Rasul dan al-Ra’d ‘ala al-Jahmiyah. Kitabnya yang paling masyhur adalah Musnad Ahmad.

    3. Pengenalan Kitab
    4. Musnad Ahmad merupakan kitab termashur dan terbesar yang disusun pada periode kelima perkembangan hadis (Abad ketiga Hijriyah). Kitab ini melengkapi dan menghimpun kitab-kitab hadis sebelumnya dan merupakan satu kitab yang dapat memenuhi kebutuhan muslim dalam hal agama dan dunia, pada masanya. Seperti halnya ulama-ulama semasanya, Imam Ahmad menyusun kitabnya secara musnad. Akan tetapi hadis-hadis yang terdapat dalam Musnad Ahmad tidak semua diriwayatkan darinya, sebagian merupakan tambahan dari putranya Abdullah dan tambahan dari Abu Bakar al-Qati’i. Menurut Musnad Ahmad edisi yang ditahqiq oleh Shu’aib al-Arnaouth, Adil Mursyid, dkk. angka terakhir dalam penomoran kitab ini adalah 27647. Jumlah tersebut termasuk hadis yang disebutkan secara berulang.

      Berdasarkan sumbernya, hadis-hadis dalam Musnad Ahmad dapat dibagi menjadi enam macam, yaitu:

      1. hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah dari ayahnya, dengan mendengar kangsung. Ini merupakan yang paling banyak,
      2. hadis yang Abdullah dengar dari ayahnya dan dari orang lain. Ini jumlahnya sedikit,
      3. hadis yang diriwayatkan Abdullah dari selain ayahnya. Hadis-hadis ini biasa disebut sebagai zawāid (tambahan),
      4. hadis yang tidak didengar Abdullah dari ayahnya tetapi dibacakan kepada ayahnya, hadis yang tidak didengar Abdullah dari ayahnya tetapi dibacakan kepada ayahnya,
      5. hadis yang tidak didengar Abdullah dari ayahnya dan tidak dibacakan kepada ayahnya, tetapi Abdullah menemukanya dalam kitab yang ditulis tangan oleh ayahnya, dan
      6. hadis yang diriwayatkan oleh al-hafidz Abu Bakar al-Qati’i

      Secara umum terdapat tiga penilaian ulama yang berbeda tentang derajat Musnad Ahmad.

      Pertama, bahwa seluruh hadis yang terdapat di dalamnya dapat dijadikan hujjah. Pendapat ini bedasarkan perkataan Imam Ahmad ketika ditanyakan kepadanya tentang nilai suatu hadis, “Jika Umat Islam berselisih tentang suatu hadis, maka merujuklah pada kitab Musnad ini, jika mereka menemukan hadis tersebut ada di dalam musnad, jika tidak ada maka hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.”

      Kedua, di dalam Musnad terdapat hadis yang shahih, dhaif, dan bahkan maudhu’. Menurut al-Iraqy bahkan taerdapat 39 hadis maudhu’, yang berasal dari tambahan-tambahan Abdullah putera Imam Ahmad.

      Ketiga, bahwa di dalam Musanad terdapat hadis yang sahih dan daif yang mendekati derajat hasan. Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah al-Dzahabi, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn al-Taimiyah, dan al-Suyuti

    5. Mu'jam Thabarani
      1. Profil Pengarang
      2. Al-Thabarani, Abu Al-Qasim (260- 360 H=873-971 M). Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Mutair alLakhmi as-Syami al-Thabarani. Ia dilahirkan di ‘Akka-Palestina bulan Safar 260 H=821 M. Ayahnya adalah seorang ulama dan periwayat hadis di zamannya. Ia tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang terhormat dan agamis. Selanjutnya Ia melakukan perjalanan untuk belajar dan mencari hadis ke banyak daerah seperti Bagdad, Kufah, Basra, Syam, Hijaz, Mesir, Yaman, dan Isfahan. Perjalanannya berlangsung selama tiga puluh tahun. Ia menetap di Isfahan.

        Di antara guru-gurunya ialah: Abu Zur’ah Abdurrahman bin Amr ad-Dimasyqi, Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Abu Abdul Rahman al-Nasa’i, Hasyim bin Murtstsad ath-Thabarani, Ishaq alDabri, Idris Aththar, Bisyr bin Musa, Hafs bin Umar, Ali bin Abdul Aziz al-Baghawi. Ia juga bertemu dengan murid-murid yang merupakan ulama terkemuka seperti Yazid bin Harun, Ruh bin Ubadah, Abu Ashim, Hajjaj bin Muhammad, dan Abdurrazaq ashShan’ani. Sedangkan murid-muridnya antara lain: Ibnu Uqdah, Abu Bakar bin Mardawayh, Abu Naim Al-Asbahani, dan Abd AlRahman bin Ahmed Al-Saffar

        Al-Thabarani adalah ulama yang memiliki hafalan kuat dan intelektual tinggi. Ulama-ulama di zamannya memberikan penilaian dan apresiasi yang sangat baik. Al-Dzahabi dalam biografinya menyatakan bahwa Ia adalah seorang Imam, hafizh, dan ahli hadis. Di antara karya imam Thabrani yang paling terkenal ialah tiga mu’jamnya yaitu: Mu’jam al-Kabir, Mu’jam al- Awsāt, dan Mu’jam al-Shaghīr. Karya lainnya ialah kitab al-Du’ā wa al-Manāsik, ‘Usyrah al-Nisā, al-Sunnah, Musnad Syu’bah, Musnad Sufyān, al-Awāil, Musnad as-Syāmiyyīn, dan Makārim al-Akhlāq. Ia pun memiliki kitab Tafsir yang cukup besar.

      3. Pengenalan Kitab
      4. Kitab Mu’jam merupakan karya Imam Thabarani yang paling populer. Ia menyusun kitab Mu’jam dalam tiga format; besar, sedang, dan kecil. Ini sesuai dengan namanya, yaitu Mu’jam al-Kabīr, Mu’jam al-Awsāṭ, dan Mu’jam al-Ṣaghīr. Ketiga karya ini dibuat secara terpisah tetapi metode penyusunannya sama, yaitu sebagai kitab mu’jam. Kitab dengan model mu’jam disusun dengan sistematika atau pengurutan menurut (nama) periwayat secara alfabetis. Metode mu’jam ini memudahkan pengguna kitab dalam mengakses para periwayat hadis secara alfabetis, dan hadis-hadis yang diriwayatkannya. Jika yang hendak dikasesnya banyak hadis menurut periwayat sahabat, maka dapat mengksesnya dalam Mu’jam al-Kabir, jika jumlah hadisnya sedang berdasarkan periwayat di awal sanad, maka dapat mengakses Mu’jam al-Awsāth, dan jika hendak mengakses setiap periwayat di awal sanad masing-masing hanya satu hadis, maka dapat mengakses Mu’jam al-Ṣaghīr.

        Perlu ditambahkan di sini bahwa Mu’jam al-Kabir sebagaimana namanya merupakan kitab terbesar di antara kitab-kitab mu’jam yang ada. Gambaran ketiga mu’jam tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

        Pertama, Mu’jam al-Kabīr. Kitab ini dicetak dalam 25 juz, dengan memuat 20459 hadis. Hadis-hadis dalam kitab ini umumnya disusun secara alfabetis menurut nama-nama periwayat dari kalangan sahabat Nabi. Namun, terdapat pengecualian karena ada yang disusun berdasarkan kelompok sahabat periwayat, yaitu di bagian awal kitab yang menyajikan (musnad) 10 sahabat periwayat yang diberi kabar masuk surga, dan di bagian akhir kitab yang menyajikan dua musnad yaitu musnad man yu’rafu bi al-kunā (nama-nama periwayat sahabat yang lebih dikenal dengan julukannya) dan musnad al-nisā.

        Secara garis besar struktur sistematika penyusunan kitab Mu’jam al-Kabīr ini adalah: (a) sepuluh periwayat sahabat Nabi; (b) para periwayat sahabat yang nama-namanya disusun secara alfabetis mulai nama periwayat dengan huruf awal alif, misalnya Usamah bin Zaid, dan seterusnya hingga nama-nama periwayat yang huruf awalnya ya; (c) bagian musnadun man yu’rafu bi al-kunā, yakni nama-nama periwayat pria yang dikenal dengan nama kunyah-nya (panggilan abū dan akhu), berikut hadis-hadis di dalamnya; (d) musnad al-nisā; yang berisi kelompok periwayat perempuan dari kalangan putri-putri Rasulullah, kemudian istri-istri Rasulullah; dan (e) nama-nama periwayat perempuan (selain yang termasuk kategori di atas) yang disusun secara alfabetis, mulai yang namanya berhuruf awal alif dan seterusnya sampai yang nama-namanya berhuruf awalnya.

        Kedua, Mu’jam al-Awsāth. Kitab ini dicetak dalam 10 juz, dengan memuat 9489 hadis. Nama periwayat yang diurutkan secara alfabetis huruf awalnya (mulai alif sampai ya) adalah nama periwayat guru langsung imam Thabarani yang nama-namanya terletak di pangkal sanad. Jadi, ini kebalikan dalam Mu’jam al-Kabīr yang nama periwayatnya di akhir sanad (periwayat dari kalangan sahabat). Penyebutan nama dalam urutan mu’jam adalah nama depannya.

        Ketiga, Mu’jam al-Shaghīr. Kitab ini dicetak dalam 2 juz, dan memuat 1192 hadis. Angka tersebut menunjuk pada nomor urut terakhir dan sekaligus merupakan jumlah total periwayat dan hadis yang diriwaytkannya. Setiap nama periwayat ditulis sekali berikut sanad dan matan hadisnya secara lengkap. Nama periwayat yang menjadi patokan dalam pengurutan secara alfabetis adalah nama periwayat pada pangkal sanad, sama dengan pada Mu’jam al-Awsāṭ. Dalam kitab ini setiap nama yang disebutkan pada pangkal sanad tidak ada yang sama, jika ada nama yang sama, akan menjadi jelas bedanya ketika ada tambahan nama lengkap periwayat itu dengan disebutkan (misalnya nama ayahnya)

        Kitab Kolekasi Hadis Pola Tematik

        Lanjut? Klik Disini

        Referensi:

        Dadi Nurhaedi, (2021) Pengantar Studi Kitab Primer