kitab Hadits Sekunder
Istilah kitab hadis sekunder tampaknya masih merupakan istilah di komunitas terbatas terutama para pengkaji hadis di Indonesia. Dalam komunitas ini, kata sekunder yang menjadi kata sifat dari frasa kitab hadis biasanya digunakan untuk membedakan dengan kata primer. Jadi, ada kitab hadis primer, ada pula kitab hadis sekunder. Secara singkat kategori kitab hadis primer dan sekunder dapat didefinisikan sebagai berikut. Kitab hadis 2 primer, ialah kitab karya ulama (pakar hadis) yang memuat hadis-hadis Nabi. Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab primer ini adalah hasil pencarian langsung, umumnya dengan menemui para guru, kemudian hadis-hadis itu diseleksi dengan mekanisme tertentu, dihimpun dan dibukukan. Sedangkan kitab hadis sekunder, ialah kitab/buku karya penulis generasi sesudahnya, yang memuat hadis-hadis Nabi yang diambil dari kitab hadis primer.
ERA KLASIK (30-650 H=600-1250 M)
- Al-Mashābīh al-Sunnah.
- Al-Ahkām al-Syar’iyyah
- menyebutkan matan hadisnya. Namun, dari pola tersebut, pada poin (2) ada perbedaan; dalam al-Ahkām al-Kubrā, para periwayat atau sanad hadis ditulis secara lengkap, sedangkan pada Ahkām al-Shugrā dan al-Ahkām al-Wusthā, sanadnya dipangkas karena yang ditulis hanya periwayat partama atau periwayat di akhir sanad, (biasanya periwayat dari kalangan sahabat Nabi, misalnya Abu Hurairah dan ‘Aisyah)
- menyebutkan nama periwayat dalam sanad, dan
- menyebutkan matan hadisnya. Namun, dari pola tersebut, pada poin (2) ada perbedaan; dalam al-Ahkām al-Kubrā, para periwayat atau sanad hadis ditulis secara lengkap, sedangkan pada Ahkām al-Shugrā dan al-Ahkām al-Wusthā, sanadnya dipangkas karena yang ditulis hanya periwayat partama atau periwayat di akhir sanad, (biasanya periwayat dari kalangan sahabat Nabi, misalnya Abu Hurairah dan ‘Aisyah)
- penomoran dan penghitungan hadis,
- inventarisasi dan pembuatan daftar kitab hadis primer yang menjadi sumber rujukan penyusunan kitab,
- menjelaskan metode penyusunan kitab secara lebih rinci da mendalam, dan
- menjelaskan kualitas hadis, minimal secara global, dengan memberikan rincian kejelasan terhadap hadis-hadis yang “bermasalah” agar mendapat perhatian.
- Al-Targhib wa al-Tarhib
- Riyādh Al-Shālihīn min Kalaam Sayid al-Mursaliin.
- Al-Muntaqā min al-Akhbār fī al-Ahkām
Penyusun kitab ini adalah al-Baghawiy (433-516 H=1041-1123 M). Nama lengkapnya adalah Al-Hussein bin Mas’ud bin Muhammad bin Al-Farra, Al-Baghawi Al-Syafi'i. Ia dijuluki Barkan Al-Din dan Muhyi Al-Sunnah.
Kitab ini memuat 4931 hadis. Jumlah ini berdasarkan penomoran dalam kitab edisi yang ditahqiq oleh Dr. Yusuf Abdurrahman al-Mar’asyaliy, Muhammad Saliim Ibrahim Samaarah, dan Jamaal Hamdiy al-Dzahabiy, terbitan Dar al-Ma’rifah, 1407 H=1987 M, dalam 4 juz.
Semua sanad dalam kitab ini dipangkas, hanya menyebutkan periwayat pertama di tingkat sahabat. Penyusun tidak menyebutkan 10 nama mukharij atau kitab hadis primer yang menjadi rujukannya, misalnya Bukhari, Muslim atau lainnya. Namun muhaqqiq kitab ini telah memberikan tambahan informasi, khususnya tentang takhrij atau informasi yang menjadi kitab sumber rujukan hadis primer yang ditempatkan dalam footnote. Kitab ini dibagi menjadi 28 kitab (bagian); setiap kitab terdapat bab-bab, dan setiap bab terdapat hadis yang jumlahnya berbeda-beda.
Penyusun kitab adalah Ibn al-Kharrāth al-Isybīliy (510-581 H=1116- 1185 M). Nama lengkapnya adalah ‘Abdul Haq bin Abdurrahman bin Abdullah al-Azdiy al-Isybiiliy-al-Andalusiy. Al-Azdiy dinisbahkan kepada nenek moyangnya, sedangkan al-Isybīliy (bisa dibaca alAsybīliy) dinisbahkan kepad tempat kelahirannya yaitu kota SevillaAndalusia, atau Sepanyol sekarang
Kitab ini dibuat dalam tiga versi, sehingga dinamai dengan al-Ahkām al-Shugrā, al-Ahkām al-Wusthā, dan al-Ahkām al-Kubrā. Versi alshugrā dicetak dalam 2 jilid, sedangkan versi al-wusthā dan al-kubrā 4 jilid, (dengan rata-rata perjilid hampir 500 halaman). Jumlah hadis dalam ketiga versi tersebut cukup banyak, meskipun belum diketahui secara persis. Para muhaqqiq ketiga kitab ini tidak memberikan penomoran dari awal sampai akhir, sebagaimana dilakukan oleh para muhaqqiq kitab hadis. Namun demikian, penyusunan ketiga versi kitab secara tematik ke dalam beberapa kitab dengan nama jelas, dan setiap kitab menjadi bab-bab dengan nama jelas pula, sangatlah membantu dalam mengkases hadis-hadis di dalamnya.
Metode penulisan hadis, pola urutannya adalah:
Dari segi isi, terdapat perbedaan antara tiga versi kitab; versi alshughrā berisi 11 kitāb (bagian)
Di antara hal yang perlu kajian terhadap kitab ini dalam konteks kitab hadis sekunder ialah
Penyusun kitab adalah Al-Mundziry (581-656 H=1185-1258). Nama lengkapnya adalah ‘Abd al-‘Adzīm bin Abd al-Qawiyy bin ‘Abdillah, Abu Muhammad, Zakiy al-Diin al-Mundziriy. Ia seorang pakar hadis dan bahasa orang, hafidz dan sejarawan. Lahir dan wafat di Mesir. Leluhurnya berasal dari Syam.
Kitab ini disusun secara tematik menjadi beberapa kitab. Setiap kitab di dalamnya terdapat bab-bab dengan jumlah variatif. Dalam setiap bab berisi hadis dengan jumlah yang variatif pula. Jumlah total hadis dalam ini ialah 5766 buah.
Adapun nama dan urutan kitāb (bagian)-nya adalah sebagai berikut: mukadimah, (al-ikhlāsh), al-‘ilm, al-thahārah, al-sholat, al-nawaafil, al-jum’ah, al-shadaqāt,al-shaum, al-‘idain wa al-adhhiyah, al-hajj, al-jihād, qiraah al-qur’ān, al-dzikr wa al-du’a, al-buyu’ wa ghairuha, al-nikāh wa mā yata’allaqu bihi, al-libaas wa al-zinah, al-tha’am wa ghairuhu, al-qadha wa ghairuhu, al-hudud wa ghairuha, al-birru wa al-shilah wa ghairuhumā, al-adab wa ghairuhu, al-taubah wa al-zuhud, al-janaaiz wa mā yataqaddamuha, al-ba’ts wa ahwāl yaum al-qiyāmah, dan shifat al-jannah wa al-nār.
Penyusun kitab ialah Imam al-Nawawi (631-676 H=1233-1277 M). ama lengkapnya adalah Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf.
Kitab ini berisi 1896 hadis. Hadis-hadis tersebut dikelompokkan menjadi 19 kitab (bagian kelompok besar), dan masing-masing kitab terdiri dari bab-bab dengan jumlah yang variatif. Nama-nama 19 kitab dimaksud adalah al-adab, adab al-tha’ām, al-libās, adab al-naum wa al-idhthijā’ wa al-qu’ūd wa al-majlis wa al-jaliis, alsalām, ‘iyādah al-marīdh wa tasyyī’ al-mayit wa al-shalāt ‘alaihi wa hudhūr dafnihi wa al-makats ‘inda qabrihi ba’da dafnihi, adab alsafar, al-fadhāil, al-i’tikāf, al-hajj, al-jihād, al-‘ilm, hamida Allāh ta’ālā wa syukruhu,al-shalātu ‘ala Rasūlillāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, al-adzkār, al-da’āwāt, al-umūr al-manhā ‘anhā, al-mantsūrāt al-mulahi, dan al-istighfār.
Kitab ini antara lain sudah ditahqiq oleh Dr. Yasin Mahir al-Fahl (terbitan Damaskus/Beirut: Dar Ibn Katsir, 1428 H=2007 M), oleh Syu’aib al-Arnauth (terbitan Beirut: Muassasah al-Risaalah tahun 1419 H=1998 M).
Nama atau judul tersebut adalah nama yang disebutkan oleh al-Syaukani dalam mukadimah kitab Nail al-Awthār syarah atas kitab ini. Sedangkan nama kitab dalam edisi yang ditahqiq oleh Thaariq bin ‘Audhullah bin Muhammad. (Kairo: Daar Ibn Jauzi, 1429 H), adalah Ahkām fii al-Ahkām al-Syar’iyyah min Kalām Khair al-Bariyyah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Penyusun kitab ini adalah Abu al-Barakaat (590-652 H=1194-1254 M). Nama lengkapnya ialah Syaikh Majduddin Abdussalam bin ‘Abdillah bin Abi al-Qaasim Ibn Taimiyyah al-Harrani. Ia adalah kakek dari Syaikh al-Islam Taqiuddin Ibn Taimiyah
Kitab ini memuat 3926 (kategori) hadis hukum. Demikian menurut penomoran dalam edisi yang ditahqiq oleh Thaariq bin ‘Audhullah bin Muhammad. (Kairo: Daar Ibn Jauzi, 1429 H=), Sedangkan menurut penomoran hadis yang terdapat dalam Nail al-Awthar syarah kitab Muntaqa oleh al-Syaukani terdapat 3944 hadis
Hadis-hadis dalam kitab ini dibagi ke dalam 56 kitab (bagian), dan hampir semua kitab, di dalamnya dibagi menjadi beberapa bab. Karena kitab ini merupakan koleksi hadis hukum, maka nama-nama kitab adalah tema-tema hukum atau fiqih, mulai dari (kitab): al-thahaarah, al-tayamum, al-nifas, al-shalat, shalat al-maridh, al- ‘idain..... dst hingga kitab al-aqdhiyah wa al-ahkam. Hadis-hadis dalam kitab ini hampir semuanya merujuk ke enam kitab induk ditambah musnad Ahmad bin Hanbal. Kitab ini telah disyarah oleh imam al-Syaukani dengan judul kitabnya Nail al-Awthār.
ERA PERTENGAHAN (650-1215 H=1258-1700 M)
- Misykāt al-Mashābīh.
- Bulug al-Maram
- Al-Ghurar fī Fadhāil ‘Umar
Penyusun kitab ini adalah Abu Abdillah al-Tibriziy (-741 H=1305- 1340 M). Nama lengkapnya adalah Muhammad bin ‘Abdullah al-Khathīb al-‘Umariy.
Kitab yang selesai ditulis tahun 737 H ini merupakan penyempurna/pelengkap dari kitab Mashābīh al-Sunnah karya al-Baghawi. Perbedaan kitab ini dengan kitab Mashābīh al-Sunnah terutama pada dua hal, yaitu pemberian informasi nama mukharij (kitab hadis primer, seperti al-Bukhari dan Muslim), dan adanya tambahan hadis oleh al-Tibriziy.
Kitab ini memuat 4926 hadis, sedangkan kitab Mashābīh al-Sunnah karya al-Baghawi memuat 4931 hadis, sehingga terdapat selisih atau tambahan sejumlah 1363 hadis. Kitab ini telah ditahqiq dan diberi nomor oleh Muhammad Nashiruddi al-Albāni (Beirut: al-Maktab al-Islaamiiy, 1985).
Penyusun kitab ini adalah Ibn Hajar al-‘Asqalāniy (773-852 H=1372-1449 M). Nama lengkapnya adalah Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad al-Kanāniy al’Asqalaniy, Abu Fadl, Syihabuddin, Ibn Hajar. Ia adalah seorang ulama dan sejarawan. Ia berasal dari ‘Asqalan di Palestina’ lahir dan wafatnya di Kairo.
Kitab ini memuat 1568 hadis. Dari jumlah tersebut, yang matannya disebut secara lengkap ada 1371 hadis, selebihnya merupakan hadis riwayat lain yang umumnya ditampilkan berupa tambahan atau karena ada perbedaan redaksi. Hadis-hadis dalam kitab ini dikelompokkan menjadi beberapa kitāb (bagian) dan dalam setiap kitāb terdapat beberapa bāb.
Kitab ini diawali dengan mukadimah, kemudian diikuti dengan kitāb- kitāb (bagian) yang di dalamnya terdapat bāb dan hadis. Adapun nama-nama kitāb dan urutannya adalah sebagai berikut: (kitāb) al-thahārah, al-shalat, al-janāiz, al-zakāt, al-shiyām, al-hajj, al-buyu’, al-nikāh, al-thalāq, al-jināyāt, al-hudūd, al-jihād, al-ath’imah, al-aimān wa al-nudzūr, al-qadhā, al-‘itq, dan al-jāmi’.
Penyusun kitab adalah al-Suyuthiy (849-911 H=1445-1505 M). Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abii Bakar bin Muhammad ibn Saabiq al-Diin al-Khudhairiy al-Suyuthiy, Jalaaluddin. Ia adalah seorang hafidz, sejarawan dan sasterawan. Karyanya sangat banyak mencampai 600 buah. Ia lahir, domisili hinga wafat di Mesir.
Kitab ini berisi 40 hadis tentang kemuliaan sahabat ‘Umar bin Khatab ra yang cenderung sangat luar biasa (bahkan berlebihan sehingga perlu diwaspadai). Penyusunan kitab ini merujuk ke kitab-kitab hadis induk yaitu kitab Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Musnad Abī Ya’la, al-Khathīb, al-Dailamiy, Mu’jam al-Kabīr li Thabaraniy, Ibn Sa’ad, Ibn ‘Asākir, al-Hākim, dan Musnad al-Bazzār.
Metode penyajian setiap hadis ialah dengan menyebutkan nama sahabat Nabi sebagai periwayat pertama, kemudian menyebutkan matan hadis, dan diakhiri dengan menyebutkan informasi mukharij-nya. Pada sebagian hadis, di akhir hadis yang ditampilkan terkadang al-Suyuti menyebutkan kualitas hadis.
ERA MODERN (1215 H=1800 M-SEKARANG)
- Al-Lu’lu’ wa al-Marjān
- Shahiih al-Huffādz min Mā Ittafaqa ‘Alaihi al-Aimmah al-Sittah
Penyusun kitab adalah Muhammad Fuad ‘Abdul Bāqī (1299-1388 H=1882-1968 M). Ia lahir dan wafat di Mesir. Ia banyak menerjemah dan me-nahqiq kitab hadis. Semua hadis dalam kitab ini ialah hadis yang masuk kategori muttafaq ‘alaih. Yang dimaksud muttafaq ‘alaih ialah hadis yang tercantum dalam dua kitab yaitu Shahīh al-Bukhārī dan Shahīh Muslim, yang sering disebut dengan kitab shahihain, dan diriwayatkan melalui jalur yang sama minimal pada level periwayat sahabat Nabi. Hadis-hadis tersebut redaksi (matan)-nya bisa sama tapi bisa juga berbeda. Setiap hadis diberi nomor dari awal sampai akhir (nomor 1-1906). Karena semua hadis dalam kitab ini merupakan hadis muttafaq ‘alaih, maka kualitasnya menempati peringkat paling tinggi berdasarkan kualitas kitab hadis secara umum. Hadis muttafaq ‘alaih sebagai peringkat hadis tertinggi dikemukakan oleh ‘Utsman bin ‘Abdurrahman yang terkenal dengan nama Ibn Shalah (557-643 H=1161-1245 M) dalam Muqaddimah-nya.
Karena semua hadis dalam kitab ini merupakan hadis muttafaq ‘alaih, maka kualitasnya menempati peringkat paling tinggi berdasarkan kualitas kitab hadis secara umum. Hadis muttafaq ‘alaih sebagai peringkat hadis tertinggi dikemukakan oleh ‘Utsman bin ‘Abdurrahman yang terkenal dengan nama Ibn Shalah (557-643 H=1161-1245 M) dalam Muqaddimah-nya.
Hadis-hadis di dalam kitab ini dikelompokkan ke dalam berbagai kitāb, dan masing-masing kitāb terdiri dari beberapa bāb. Sistematika penyusunan kitab ini secara umum mengikuti sistematika penyusunan nama kitāb dan bāb dalam kitab Shahīh Muslim yang dinilai sangat sistematis, sedangkan pilihan redaksi yang ditampilkan dalam kitab ini jika terdapat perbedaan redaksi, secara umum lebih memilih redaksi (lafal) sebagaimana dalam Shahīh al-Bukhārī. Jumlah hadis dalam setiap bab sangat variatif, ada yang sedikit tapi ada yang banyak. Hal ini sebagai konsekuensi adanya syarat bahwa hadis yang dicantumkan harus termasuk kategori muttafaq ‘alaih. Selain itu, dalam kitab ini pun banyak bāb yang tidak ada, karena tidak ada hadis yang muttafaq ‘alaih dalam bāb itu
Penyusun kitab adalah ‘Awād al-Khalaf. Dalam penulisan sumber rujukan, nama enam kitab hadis primer diganti dengan simbol, yaitu خ) Shahih al-Bukhāri), م) Shahih Muslim), ت) Jaami’/Sunan Tirmidzi), س) Sunan al-Nasāi), د) Sunan Abi Dāwud), dan جه( Sunan Ibn Mājah). huruf hijaiyyah diikuti nomor hadis. Kode huruf itu kemudian diikuti angka (tanpa spasi), misalnya ٤٤خ) maksudnya hadis itu terdapat dalam Shahih al-Bukhari, nomor urut 44).
Kitab ini memuat 408 hadis, yang (sesuai dengan judulnya) merupakan hadis-hadis muttafaq ‘alaih, yakni hadis-hadis yang diriwayatkan melalui periwayat yang sama di tingkat sahabat Nabi, dalam enam kitab hadis induk. Keenam kitab induk dimaksud ialah Shahih al-Bukhāri, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abi Dāwud, Sunan al-Nasāi, dan Sunan Ibn Mājah.
Kitab ini adalah terbitan Beirut: Dār al-Basyāir al-Islāmiyyah, 1422 H=2001 M). Sistematika kitab ini, secara umum mengikuti sistematika dalam kitab Shahih Muslim. Demikian juga dalam hal pilihan redaksi atau matan hadis, jika terdapat variasi, yang akan dipilih adalah redaksi dalam kitab Shahih Muslim.