kitab-Kitab Hadits
Hadis adalah rekaman kehidupan Nabi Muhammad saw. Posisi hadis sangatlah penting sebagai sumber ajaran Islam di samping Al-Qur’an. Hadis Nabi berfungsi sebagi penjelas (bayan) bagi Al-Qur’an. Karena posisi dan fungsi hadis sangat penting, maka hadis sangatlah perlu untuk dikaji.
Jika dilihat darik volume teksnya, Al-Qur’an dapat dikatakan relatif ringkas, yakni sekitar 600-an halaman, sedangkan hadis Nabi jumlahnya sangat banyak. Teks hadis tersimpan dalam banyak kitab dengan jumlah juz/jilid yang banyak pula. Selain itu, kitab-kitab hadis disusun dengan sistematika atau metode penulisan yang sangat beragam. Karena itu, agar dapat mengakses dan mengkaji hadis Nabi dari sumber-sumbernya secara langsung dan baik, maka diperlukan pengetahuan yang memadai tentang kitab-kitab hadis.
Karena kitab koleksi hadis sangat beragam dan banyak jumlahnya, maka perlu dikelompokkan supaya lebih mudah dikenali dan dipahami persamaan dan perbedaannya. Pengelompokan kitab-kitab hadis antara lain bisa dibedakan menjadi kitab hadis primer (sebagian menyebutnya dengan istilah asli, induk, mashdar, atau mu’tabar) dan kitab hadis sekunder (marja’ atau turunan).
Kitab hadis primer dan kitab hadis sekunder dewasa ini dapat dibedakan minimal melalui atau dari tiga hal sebagai berikut:
- judulnya; kitab hadis primer biasanya menggunakan istilah varian pola kitab dan diikuti nama populer penyusunnya, misalnya Shahīh al-Bukhāri dan Musnad Ahmad, sedangkan kitab 3 hadis sekunder biasanya dinamai menurut kreasi penyusunnya, umumnya berupa frasa yang mengindikasikan isinya, misalnya alTarghīb wa al-Tarhīb dan Bulūg al-Marām min Adilah al-Ahkām;
- teks hadisnya; dalam kitab hadis primer semua hadis ditulis lengkap sanad dan matannya; sedangkan dalam kitab hadis sekunder matannya ditulis lengkap tapi sanad biasanya dipangkas hanya nama periwayat sahabat dan mukhārij (nama ulama penyusun kitab hadis primer); dan
- penyusun kitab; semua kitab hadis primer disusun oleh sejumlah ulama pada abad I-IV H yang mendapatkan hadis (umumnya) berdasarkan pencarian langsung menemui para guru, sedangkan penyusun kitab hadis sekunder adalah generasi setelahnya yang menyusun kitab dengan mengambil hadis dari kitab-kitab hadis primer.
Klik untuk penjelasan lebih lanjut
Referensi:
Dadi Nurhaedi, (2021) Pengantar Studi Kitab Primer
Dadi Nurhaedi, (2021) Pengantar Studi Kitab Sekunder