و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَبَائِرَ أَوْ سُئِلَ عَنْ الْكَبَائِرِ فَقَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَالَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالَ قَوْلُ الزُّورِ أَوْ قَالَ شَهَادَةُ الزُّورِ قَالَ شُعْبَةُ وَأَكْبَرُ ظَنِّي أَنَّهُ شَهَادَةُ الزُّورِ
Telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Wahhab bin 'Abdul Hakim dari Hajjaj, Ibnu Juraij berkata; Telah mengabarkan kepadaku 'Utsman bin Abi Sulaiman dari 'Ali Al Azdi dari 'Ubaid bin 'Umair dari 'Abdullah bin Hubsyi Al Khats'ami bahwa Nabi ﷺ ditanya, "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau ﷺ menjawab, "Keimanan tanpa ada keraguan padanya, jihad tanpa ada khianat padanya dan haji mabrur." Beliau ditanya lagi, "Salat apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Salat yang panjang (bacaan Alquran dan doanya)." Beliau ditanya lagi, "Sedekah apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Sedekahnya orang fakir miskin atas sedikit harta yang ia miliki." Beliau ditanya lagi, "Hijrah apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang berhijrah (meninggalkan) apa yang Allah -Azza wa Jalla- haramkan." Beliau ditanya lagi, "Jihad apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang berjihad melawan orang-orang Musyrik dengan harta dan jiwanya." Beliau ditanya lagi, "Mati apa yang paling mulia?" Beliau menjawab, "Orang yang terbunuh (di medan perang) hingga darahnya mengalir dan kuda perangnya pun juga ikut terbunuh." HR. Nasai No. 2479. Kitab Zakat. Bab kesungguhan ketika dalam keterbatasan)
Penjelasan:
Dalam hadits ini, Nabi saw. mengabarkan kepada kita tentang empat perkara yang termasuk dalam ketegori dosa-dosa besar. Dosa-dosa besar yang Nabi saw. sebutakan dalam hadits ini ada empat:
Pertama: Melakukan kesyirikan kepada Allah; karena kesyirikan mengeluarkan seorang muslim dari Islam dan memasukkannya ke dalam kekufuran, dan sebab untuk kekal di dalam neraka, sebagaimana firman Allah Swt.:
اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (Al Maidah: 72).
Kedua: Durhaka kepada kedua oang tua, diantara bentuknya: membentak, memutus tali silaturahim, menyakiti dangan perkataan maupun perbuatan, tidak taat kepada mereka, dan berbuat jahat kepada mereka dengan berbagai macam bentuk kejahatan.
Ketiga: Membunuh jiwa, ia merupakan dosa besar, sebab kemurkaan Allah, dan sebab masuk ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Swt.:
وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاۤؤُهٗ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيْمًا
“Dan siapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (An-Nisaa’: 93).
Keempat: Persaksian palsu, “az-zuur” (kebohangan), siapa yang bersaksi dengan persaksian palsu, maka ia telah melakukan kemungkaran dalam bentuk perkataan, dan ia merupakan salah satu dosa-dosa besar.
Wajib atas setiap muslim untuk selalu jujur dalam segala hal, diantaranya: jujur dalam memberikan persaksian, apabila ia diminta untuk bersaksi atas sesuatu, baik di pengadilan maupun selainnya, maka hendaknya ia bersaksi dengan jujur dan benar, serta menjauhi kedustaan; agar tidak terjatuh dalam perbuatan dosa.
.
.
.
.
sumber: Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah Al-Muhanna. (2020). Al-Arba'unal Wildaniyah. (Ahmad Zamhari, dkk Terjemahan) Penerbit: islamhouse.com