حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abi Sufyan, dari 'Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Islam dibangun di atas lima (landasan); Persaksian dengan menafikan adanya tuhan yang berhak disembah selain Allah ﷻ dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadan." (Shahih Bukhari No. 7. Kitab Iman. Bab Ucapan Nabi saw. Islam dibangun di atas lima perkara)

    Penjelasan:

    Dalam hadits ini, Nabi saw. mengabarkan kepada kita tentang empat perkara yang termasuk dalam ketegori dosa-dosa besar. Dosa-dosa besar yang Nabi saw. sebutakan dalam hadits ini ada empat:

    Pertama: Melakukan kesyirikan kepada Allah; karena kesyirikan mengeluarkan seorang muslim dari Islam dan memasukkannya ke dalam kekufuran, dan sebab untuk kekal di dalam neraka, sebagaimana firman Allah Swt.:

    اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

    “Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (Al Maidah: 72).

    Kedua: Durhaka kepada kedua oang tua, diantara bentuknya: membentak, memutus tali silaturahim, menyakiti dangan perkataan maupun perbuatan, tidak taat kepada mereka, dan berbuat jahat kepada mereka dengan berbagai macam bentuk kejahatan.

    Ketiga: Membunuh jiwa, ia merupakan dosa besar, sebab kemurkaan Allah, dan sebab masuk ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Swt.:

    وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاۤؤُهٗ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيْمًا

    “Dan siapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (An-Nisaa’: 93).

    Keempat: Persaksian palsu, “az-zuur” (kebohangan), siapa yang bersaksi dengan persaksian palsu, maka ia telah melakukan kemungkaran dalam bentuk perkataan, dan ia merupakan salah satu dosa-dosa besar.

    Wajib atas setiap muslim untuk selalu jujur dalam segala hal, diantaranya: jujur dalam memberikan persaksian, apabila ia diminta untuk bersaksi atas sesuatu, baik di pengadilan maupun selainnya, maka hendaknya ia bersaksi dengan jujur dan benar, serta menjauhi kedustaan; agar tidak terjatuh dalam perbuatan dosa.

    .

    .

    .

    .

    sumber: Muhammad bin Sulaiman bin Abdullah Al-Muhanna. (2020). Al-Arba'unal Wildaniyah. (Ahmad Zamhari, dkk Terjemahan) Penerbit: islamhouse.com